News, travel

Tradisi Usir Kesialan yang Menyebabkan Bocah di Temanggung Meninggal

11 Anak Ikuti Ruwatan Potong Rambut - GenPI.co

Ski-jungle.com -Seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun ditemukan meninggal karena tradisi ruwatan di Temanggung, Jawa Tengah.

Jasadnya ditemukan pada Minggu (16/5) malam di sebuah kamar di rumahnya dengan kondisi tragis, hanya menyisakan tulang belulang dan kulit yang telah mengering.

Korban meninggal usai dimandikan, lalu disimpan selama empat bulan di rumah oleh orang tua atas saran dukun. Polisi mengatakan, berdasarkan pengakuan dukun, anak tersebut diruwat karena merupakan keturunan genderuwo (salah satu jenis setan dalam kepercayaan Jawa). Untuk menghilangkan pengaruh setan itu, makan sang anak harus diruwat.

Kapolres Temanggung AKBP, Benny Setyowadi, mengungkapkan analisis yang dilakukan oleh tim penyidik terhadap empat orang saksi. Dalam penyelidikan, korban (ALH) tewas karena dimasukan ke dalam bak mandi berisi air.

” Dalam routine itu korban di masukkan dalam air di bak mandi, di benamkan kepalanya lalu diangkat. Begitu terus berkali-kali hingga tak sadarkan diri dan akhirnya meninggal,” katanya Rabu (19/5).

Meski begitu, Benny menyebut untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian korban secara medis, pihaknya masih menunggu hasil lab forensik Bidokes Polda Jateng.

Lantas, apakah ritual ruwatan yang menyebabkan hilangnya nyawa bocah yang duduk di bangku 1 SD tersebut?

Ruwat dalam bahasa Jawa memiliki arti lepas atau dibebaskan. Pelaksanaan routine tersebut disebut dengan ngruwat atau ruwatan, yang berarti melepaskan atau membebaskan.

Upacara ini biasanya bertujuan untuk melepaskan sesuatu yang berhubungan hal mistis yang tersimpan dalam tubuh, seperti kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka, atau keadaan yang menyedihkan.

Ritual ruwatan dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, atau menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib yang akan membahayakan.

Tradisi ruwatan dilakukan sebagai suatu permohonan agar manusia diselamatkan dari gangguan dan bencana yang mengancam hidup dan kehidupannya. Melalui ruwatan, manusia merasa terlindungi oleh kekuatan besar yang dipercaya sebagai kekuatan penyelamat.

Dilansir laman resmi Kemendikbud, dalam ritual ruwatan biasanya digelar pertunjukkan wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan.

Pergelaran wayang kulit ini biasanya melakoni kisah Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek.

Dalam kisah wayang Murwakala, seorang putera bernama Salah Kededen mendadak berubah menjadi raksasa jahat dan memangsa manusia yang masuk dalam kategori sukerta.

Sukerta berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atau dicuci agar bersih. Konon, kelompok manusia sukerta yang tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala.

Dalam buku Bratawidjaja karya Thomas Wiyasa, yang berjudul Upacara Tradisional Masyarakat Jawa (1988 ), orang-orang yang termasuk golongan Sukerta, antara lain:

1. Ontang-anting: anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung.
2. Unting-unting: anak perempuan tunggal dalam keluarga.
3. Gedhana-gedhini: dua anak dalam keluarga, laki-laki dan perempuan.
4. Uger-uger lawang: dua anak laki-laki dalam keluarga.
5. Kembar sepasang: dua anak perempuan dalam keluarga.
6. Pendhawa: lima anak laki-laki dalam keluarga.
7. Ngayomi: lima anak perempuan dalam keluarga.
8. Julungwangi: anak lahir pada saat matahari terbenam.
9. Pangayam-ayam: anak lahir saat tengah hari.

Dalam prosesi tradusi ruwatan, ada sejumlah syarat yang harus dilakukan, yakni menyediakan peralatan ruwat, sajian, korban, atau mantera yang dijadikan sarana untuk menjembatani komunikasi antara manusia dengan kekuatan penyelamat yang diinginkan.

Van Baal dalam bukunya (1988 ), mengungkapkan bahwa sajian merupakan pemberian atau persembahan kepada dewa dan roh. Sajian yang diberikan tidak hanya bertujuan sebagai persembahan, tetapi mengandung lambang-lambang yang digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan dewa tersebut.

Misalnya itik, menthog, dan burung merpati yang dinilai menjadi kegemaran Betara Kala. Sedangkan, kain bangun tulak adalah kain kegemaran Batari Durga, kain pandhan binethot kegemaran Batari Sri.

Sajian tersebut harus dipenuhi saat mengadakan tradisi ruwatan. Sebab, kalau kurang lengkap kemungkinan besar upacara itu tidak mencapai maksud yang dikehendaki, bahkan dapat mendatangkan bencana.