travel, Wisata

Tak Ada Unsur Eksploitasi Alam dalam Pengembangan Geopark

Indonesia memiliki sekitar 15 geopark yang luar biasa dan 7 di antaranya adalah Ciletuh Pelabuhanratu di Jawa Barat, Gunung Sewu di Yogyakarta, Gunung Rinjani NTB, Danau Toba Sumatera Utara, Gunung Batur Bali, Merangin di Jambi, dan Geopark Banyuwangi di Jawa Timur.

Memang, potensi wisata berbasis alam adalah fokus pemerintahan di era new normal. Wisata alam dianggap sebagai alternatif terbaik karena menyajikan risiko penularan Covid-19 yang paling rendah dibandingkan dengan kegiatan wisata lainnya.

Safri Burhanudin, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, telah memastikan bahwa alam tidak dieksploitasi dalam pengembangan berbagai geopark di Indonesia hingga terus dilakukan oleh pemerintah saat ini.

“Geopark berarti tidak hanya membangun, tetapi juga mejaga kelestarian alam adalah mutlak. Pariwisata berkelanjutan dan non-eksploitasi pariwisata, ada strategi untuk mengatur jumlah wisatawan yang dapat memasukinya,” katanya. dia menyatakan.

Dia menambahkan bahwa dalam pariwisata geopark, masalah kelestarian alam adalah yang paling penting dan tidak boleh ditantang oleh siapa pun.

“Ini berarti bahwa alam tidak terganggu, bahwa budaya tidak terganggu dan bahwa semua konten tidak terganggu. Misalnya, jika hal-hal ini terganggu di masa depan, kami akan menyatakan bahwa pariwisata telah gagal,” katanya.

Sekadar informasi, Indonesia telah lama dikenal sebagai tuan rumah beberapa geopark yang diresmikan oleh UNESCO, dan kebanyakan dari mereka mejadi incaran para wisatawan lokal dan turis mancanegara.

Taman geopark atau Geological Park itu sendiri adalah wilayah dengan elemen geologi yang sangat kaya, di mana semua pihak diwajibkan untuk melestarikan, menggunakan dan mengembangkan semua warisan alam yang terkandung di dalamnya, termasuk nilai-nilai dalam ekologi, arkeologi, sosiologi dan seni dan budaya.