Kuliner, Tips

Beberapa Efek Samping Bagi yang Suka Makan Makanan Bertepung, Resiko Sakit Jantung

Bahaya Mengintai Kesehatan di Balik Menu Takjil Gorengan untuk Berbuka  Puasa Selama Ramadan! - Semua Halaman - Ski-jungle.com

Ski-jungle.com – Makanan yang mengandung banyak tepung memang lezat. Sebut saja gorengan, pasta, mi, sampai kue-kue peanut, adalah jenis makanan yang tak bisa kita tolak kenikmatannya. Namun, hal ini bisa menjadi boomerang bila kamu tak mengontrol jumlah konsumsi makanan bertepung tersebut.

Meski kadar tepungnya sedikit, tapi jika mengonsumsinya secara rutin, akan berdampak buruk pada tubuh.

Sebab, makanan bertepung adalah sumber karbohidrat maupun gula yang cukup tinggi. Bila kita terlalu sering memasukkannya dalam kebiasaan makan sehari-hari, ada sejumlah efek samping yang merugikan kondisi kesehatan, lho.

Buat kamu yang masih sering konsumsi aneka hidangan bertepung ini, lebih baik dikurangi, ya. Sebab, berikut kami sudah merangkum beberapa efek samping bagi kesehatan; yang bisa kamu pertimbangkan sebelum memilih sajian atau makan makanan bertepung.

Makanan bertepung tingkatkan risiko penyakit jantung

Pola makan yang tinggi tepung olahan, kemungkinan besar bisa membahayakan kesehatan jantung. Mengutip WebMD, penelitian terbaru menunjukkan makanan ringan bertepung laiknya keripik kentang dan camilan lain, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of American Heart Association itu lebih lengkapnya, mengungkapkan makan camilan tinggi tepung atau pati, setelah makan berat dikaitkan dengan 50-52 persen peningkatan risiko kematian karena sebab apa pun; dan 44-57 persen peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung.

Bikin wajah jerawatan

Makanan bertepung merupakan sumber karbohidrat buruk, lemak jenuh, dan bikin gula darah meningkat. Nah, kebanyakan orang dewasa yang mengonsumsi makanan sejenis itu, biasanya akan berdampak pada kesehatan kulit, salah satunya jerawat.

Para peneliti Journal Academy of Nutrition and also Dietetics, menemukan kalau adanya hubungan antara wajah berjerawat dengan kebiasaan makan kita.

Mereka yang berusia 18-25 tahun dan mempunyai masalah jerawat cukup berat, rupanya memang sering menerima asupan tinggi gula dan produk olahan susu lainnya. Oleh karena itu, dapat dipastikan bila pemicu utama jerawat adalah pola makan yang tak sehat tersebut.

Gigi berlubang

Apakah mungkin bila asupan karbohidrat dan bertepung bisa merusak gigi? Yup, sangat memungkinkan. Ini karena kandungan tepung dalam makanan mampu menjadi gula sederhana saat bersentuhan dengan air liur; alhasil kesehatan gigi pun terancam.

Hal serupa dijelaskan pula melalui penelitian The American Journal of Professional Nourishment. Penelitian itu menyatakan kalau gula sederhana akan termakan oleh bakteri dalam mulut. Bakteri memakan gula, lalu menghasilkan asam yang memengaruhi pH plak. Efeknya, memicu pembusukan gigi serta demineralisasi gigi.

Fungsi otak menurun

Gula yang dihasilkan oleh karbohidrat memang dinilai sebagai sumber energi. Namun, perlu dipahami, kalau kebanyakan karbohidrat akan menjadi boomerang pula bagi kesehatan otak.

Kajian penelitian National Institutes of Aging Mayo Center, menyatakan bahwa makanan tinggi gula maupun karbohidrat mampu menyebabkan risiko gangguan kognitif ringan.

” Asupan karbohidrat tinggi memengaruhi metabolisme glukosa insulin. Kadar gula tinggi mampu membahayakan otak. Tetapi, seharusnya ketika otak mendapat gula cukup, dapat merangsang kita untuk jangan makan gula berlebih,” jelas Rosebud Roberts, ahli epidemiologi Mayo Facility.

Berat badan naik

Terlalu sering mengonsumsi karbohidrat maupun makanan bertepung, dapat mengancam berat badan kita, lho. Makanan sejenis pizza, keripik, gorengan, sampai mi instan adalah pemicu utama timbangan tubuh jadi melonjak.

Ketika kita mendapat asupan tersebut, insulin dalam tubuh diketahui ikut melonjak drastis. Oleh karenanya, tak heran bila bobot tubuh cepat naik akibat keseringan mengonsumsi makanan tersebut.

Studi Jurnal Clinical Chemistry, Harvard Medical College pernah melakukan penelitian terhadap 140 ribu orang dengan tingkatan insulin tinggi. Hasilnya, ditemukan bahwa insulin punya hubungan kuat terhadap konsumsi karbohidrat tinggi, hal ini jadi berpengaruh ke massa tubuh yang ikut meningkat.